Sejarah dan Arti Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq Khas Warga NU

Table of Contents

Bagi masyarakat umum, kalimat ucapan salam penutup seperti "Wabillahi taufiq wal hidayah" atau "Wassalamu'alaikum" mungkin sudah sangat familier. Namun, bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), ada satu kalimat khas yang wajib diucapkan sebelum salam akhir, yaitu "Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq".

Kalimat ini laksana "password" kultural yang langsung menandakan bahwa sang pembicara adalah bagian dari keluarga besar Nahdliyah. Lalu, apa sebenarnya arti mendalam dari kalimat ini? Dan bagaimana sejarahnya hingga bisa menjadi seragam lisan bagi jutaan warga NU?

Arti dan Makna Filosofis

Secara bahasa (etimologi Arab), kalimat ini terdiri dari beberapa kata yang memiliki makna sangat mendalam:

  • Wallahu: Dan Allah

  • Al-Muwafiq: Yang Maha Pemberi Petunjuk / Yang Maha Menyelaraskan

  • Ila: Ke / Menuju

  • Aqwam: Yang Paling Lurus / Paling Tepat

  • At-Tharieq: Jalan

Jika dirangkai secara utuh, arti dari Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq adalah:

"Dan Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk menuju jalan yang paling lurus."

Makna Spiritual bagi Seorang Muslim

Kalimat ini sebenarnya adalah bentuk doa dan pengakuan atas keterbatasan kita sebagai manusia. Ketika seseorang selesai menyampaikan pidato, gagasan, atau nasihat, ia menutupnya dengan kalimat ini untuk menegaskan bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah. Manusia bisa berencana dan berbicara, namun hanya Allah yang mampu membimbing hati kita untuk tetap berjalan di atas kebenaran (jalan yang lurus).

Sejarah Lahirnya Kalimat Khas NU

Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal
KH. Ahmad Abdul Hamid, sang pencetus

Lahirnya kalimat ini tidak bisa dilepaskan dari peran salah satu tokoh berasas intelektual tinggi di tubuh Nahdlatul Ulama, yaitu KH. Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Kaliwungu.

Alasan Penciptaan: Sebuah Kebutuhan Identitas

Pada masa-masa awal kemerdekaan hingga era Orde Lama, situasi politik dan dinamika keislaman di Indonesia sangat berwarna. Setiap kelompok atau organisasi masyarakat (ormas) Islam mulai merumuskan ciri khasnya masing-masing sebagai penanda identitas.

Sebelum kalimat ini lahir, warga NU sering kali menggunakan kalimat penutup yang umum digunakan oleh organisasi lain, seperti Wabillahi taufiq wal hidayah (yang populer di kalangan Muhammadiyah) atau Billahit taufiq wal hidayah.

Melihat hal tersebut, KH. Ahmad Abdul Hamid yang dikenal kreatif dan visioner merasa bahwa NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia harus memiliki untaian doa penutup sendiri yang khas, yang mencerminkan karakter Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang moderat, runtut, dan santun.

Menjadi Kalimat Resmi Organisasi

Surat Mandat IPNU IPPNU
Contoh Surat yang menggunakan kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq

KH. Ahmad Abdul Hamid kemudian merumuskan kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq. Kalimat ini tidak hanya indah didengar, tetapi juga sarat akan nilai kepasrahan kepada taufik Allah.

Beliau kemudian mengusulkan kalimat ini kepada Pimpinan Pusat Nahdlatul Ulama. Para ulama dan kiai sepuh NU menyambut baik usulan tersebut karena maknanya yang luar biasa dalam. Sejak saat itulah, kalimat ini mulai disosialisasikan secara masif melalui pesantren-pesantren, forum pengajian, hingga akhirnya resmi tertuang dalam tata cara surat-menyurat resmi organisasi NU,  termasuk surat menyurat IPNU dan IPPNU.

Relevansi Penggunaan Hari Ini

Di era modern, penggunaan kalimat ini telah meluas. Tidak hanya dibatasi dalam forum internal NU, kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq kini sering diucapkan oleh para pejabat negara, tokoh nasional, hingga akademisi saat berpidato di hadapan publik sebagai bentuk penghormatan dan adaptasi kultural terhadap warga Nahdliyah.

Bagi kader muda NU, mengucapkan kalimat ini bukan sekadar merawat tradisi lisan orang tua terdahulu, melainkan bentuk kebanggaan atas identitas Islam Nusantara yang ramah, berbudaya, dan selalu memohon petunjuk Allah dalam setiap langkah perjuangannya.

Kesimpulan

Kalimat "Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Tharieq" adalah warisan intelektual dan spiritual yang luar biasa dari KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal. Ia mengajarkan kita untuk selalu menutup segala urusan dengan berserah diri kepada Allah, memohon agar ilmu dan tindakan kita selalu diarahkan pada jalan yang paling lurus dan diridai-Nya.

Muhammadun Bashor
Muhammadun Bashor Ketua PR IPNU Desa Bantrung 2023-2025

Posting Komentar