Selamat Memperingati Harlah Nahdlatul Ulama: Refleksi Peran NU Merawat Jagat, Membangun Peradaban
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Momen istimewa kembali menyapa kita, warga Nahdliyin di seluruh penjuru dunia, khususnya rekan dan rekanita di Desa Bantrung.
Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama, Pimpinan Ranting (PR) IPNU IPPNU Desa Bantrung turut bersuka cita dan bangga menjadi bagian dari jam'iyah terbesar di dunia ini. Peringatan Harlah bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali jejak perjuangan para Muassis (pendiri) NU dan peran besarnya bagi bangsa Indonesia.
Napak Tilas: NU dan Sejarah Panjang Perjuangan
Didirikan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926 M) oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari bersama para ulama nusantara, Nahdlatul Ulama lahir sebagai respons terhadap tantangan zaman. NU hadir untuk membentengi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari penjajah.
Bagi pelajar NU di Desa Bantrung, memahami sejarah ini sangat vital. Kita tidak bisa melupakan bagaimana Resolusi Jihad yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy'ari menjadi bahan bakar utama meletusnya pertempuran 10 November di Surabaya. Ini membuktikan bahwa hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) bukan hanya slogan, tapi darah dan daging pergerakan NU.
Peran Vital Nahdlatul Ulama Selama Ini
Mengapa kita harus bangga menjadi kader NU? Karena peran NU sangat nyata dan dirasakan hingga detik ini. Berikut adalah beberapa peran strategis NU yang perlu kita pahami dan teladani:
1. Penjaga NKRI dan Pancasila
NU selalu berada di garda terdepan ketika ada ancaman terhadap ideologi bangsa. NU secara tegas menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran NU dalam merawat kebinekaan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak perlu diragukan lagi.
2. Mengusung Islam yang Ramah (Wasathiyah)
Di tengah gempuran ideologi transnasional yang keras, NU konsisten mendakwahkan Islam yang rahmatan lil alamin. Prinsip tawassuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), i'tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran) menjadikan wajah Islam di Indonesia sejuk dan damai. Ini adalah nilai yang wajib dipegang teguh oleh kader IPNU IPPNU Bantrung.
3. Pemberdayaan Umat dan Pendidikan
Melalui ribuan pesantren, madrasah, dan sekolah, NU telah mencerdaskan jutaan anak bangsa. Peran NU dalam pendidikan karakter berbasis akhlakul karimah adalah sumbangsih terbesar bagi peradaban Indonesia.
IPNU IPPNU Bantrung: Melanjutkan Estafet Perjuangan
Sebagai badan otonom yang mewadahi pelajar dan santri, IPNU IPPNU Desa Bantrung memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan perjuangan ini.
Harlah NU tahun ini harus menjadi pelecut semangat bagi kita, Rekan dan Rekanita, untuk:
- Memperkuat Kaderisasi: Mengajak lebih banyak pelajar di Bantrung untuk mengenal Aswaja.
- Melek Digital: Mengisi ruang media sosial dengan konten positif yang menyejukkan, melawan hoaks dan ujaran kebencian.
- Berkhidmat pada Masyarakat: Terjun langsung dalam kegiatan sosial di lingkungan Desa Bantrung.
Mari kita jadikan spirit Harlah NU ini sebagai motivasi untuk belajar, berjuang, dan bertakwa lebih giat lagi.
Selamat Harlah Nahdlatul Ulama!
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan bagi NU, memberkahi para ulama kita, dan menjadikan kita santri yang diakui oleh Mbah Hasyim Asy'ari. Amin.

Posting Komentar